Garut, HarianMurba.com – Stabilitas stok pangan di Kabupaten Garut mendapat suntikan besar melalui langkah kolaboratif antara kepolisian dan sektor pertanian. Sebanyak 18 ton jagung pipil hasil panen petani lokal resmi diserap masuk ke Gudang Bulog guna memastikan rantai pasok tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global.
Langkah strategis ini dilaksanakan di Gudang Bulog yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Copong Mandala, Kecamatan Garut Kota, Selasa (5/5/2026). Penyerapan komoditas tersebut dipimpin langsung oleh Kapolres Garut, AKBP Yugi Bayu Hendarto, S.I.K., M.A.P., sebagai bentuk pengawalan terhadap hasil bumi masyarakat agar memiliki nilai jual yang layak dan akses pasar yang pasti.
Distribusi Hasil Panen dari Berbagai Wilayah
Kehadiran jajaran Polres Garut bersama perwakilan kelompok tani serta UPT dari Sukawening, Leles, hingga Kadungora menandai sinergitas lintas sektoral. Proses bongkar muat jagung pipil ini menjadi bukti nyata bahwa koordinasi di tingkat akar rumput mampu menghasilkan dampak logistik yang masif.
“ Polres Garut berhasil menyerap jagung pipil sebanyak 18 ton yang berasal dari beberapa wilayah, dengan rincian Polsek Garut Kota sebanyak 2 ton, Polsek Sukawening 9 ton, Polsek Leles 4 ton, dan Polsek Kadungora 3 ton. ” ujar AKBP Bayu saat memantau kualitas jagung di lokasi.
Kontribusi terbesar dalam penyerapan kali ini berasal dari wilayah Sukawening yang menyumbangkan hampir separuh dari total volume jagung. Hal ini menunjukkan potensi agrikultur yang merata di wilayah hukum Polres Garut.
Komitmen Terhadap Kesejahteraan Petani Lokal
Polri tidak hanya berperan dalam menjaga keamanan, tetapi juga bertindak sebagai fasilitator ekonomi bagi para petani. Melalui mekanisme penyerapan langsung ke Bulog, diharapkan harga di tingkat petani tidak anjlok saat masa panen raya tiba.
“kami berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan Masyarakat.” tegas Kapolres Garut lebih lanjut.
Narasi besar dari kegiatan ini adalah terciptanya ekosistem pangan yang mandiri. Dengan adanya jaminan serapan dari institusi terkait, para petani kini memiliki sandaran yang lebih kuat untuk terus berproduksi tanpa rasa khawatir akan penumpukan stok yang sia-sia.
Agenda ini menjadi bukti bahwa sinergi antara Polri, Bulog, dan petani adalah kunci utama dalam menjaga stabilitas harga pangan. Komoditas jagung, yang menjadi salah satu pilar utama pangan daerah, kini berada dalam pengawasan distribusi yang lebih sehat dan transparan.
Kedepannya, pola penyerapan hasil tani ini diharapkan menjadi model berkelanjutan. Fokus utama bukan hanya pada kuantitas tonase, melainkan pada terciptanya kedaulatan pangan yang dimulai dari perlindungan terhadap hak-hak ekonomi petani lokal di pelosok Garut.***







