Jakarta, HarianMurba.com – Nusa Tenggara Timur (NTT) diproyeksikan mampu menyuplai kebutuhan garam nasional hingga 2 juta ton pada tahun 2029 mendatang.
Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, melihat potensi besar ini sebagai solusi untuk menekan angka impor garam Indonesia.
Saat ini, Indonesia diketahui masih melakukan impor garam sekitar 3,7 juta ton setiap tahunnya.
“Hitungan saya, di 2029 kita mampu menyuplai 2 juta ton sendiri,” ujar Viktor saat menghadiri Musyawarah Besar Forum Pemuda Kupang Jakarta (FPKJ) di Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Langkah industrialisasi ini sekaligus mematahkan stigma kemiskinan yang selama ini melekat pada wilayah berbasis kepulauan tersebut.
Viktor menilai bahwa pelabelan daerah miskin muncul karena kekayaan alam yang melimpah belum dikelola secara maksimal oleh sumber daya manusia setempat.
“Kalau tanya saya sebagai gubernur, ya memang tidak miskin,” tegas mantan Gubernur NTT tersebut.
Ia menjelaskan bahwa status ekonomi sebuah daerah sangat bergantung pada sejauh mana masyarakatnya mau bekerja mengolah aset yang ada.
“Kenapa dia miskin? Karena kekayaannya belum dikerjakan,” lanjut pria yang berbicara di hadapan peserta Mubes di Akademi Bela Negara (ABN) tersebut.
Selain sektor garam, hilirisasi pertanian menjadi fokus utama untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal yang selama ini terbuang percuma.
Melimpahnya hasil panen buah di NTT seringkali berakhir menjadi limbah karena minimnya sentuhan teknologi pengolahan pascapanen.
“Kita punya buah melimpah, tapi dibuang,” papar legislator asal NTT itu dengan nada prihatin.
Ia meyakini bahwa penggunaan alat produksi yang sederhana sebenarnya sudah cukup untuk mengubah buah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
“Padahal dengan mesin sederhana, kita bisa produksi dan jual dengan nilai ekonomi,” tambah Viktor menjelaskan solusinya.
Namun, keberhasilan transformasi ekonomi ini menuntut perubahan besar pada standar efisiensi cara berpikir masyarakat dan para pemuda.
Viktor mengkritik keras tradisi organisasi yang terjebak dalam lingkaran diskusi teoritis tanpa membuahkan implementasi yang konkret.
“Kita tidak lagi cukup untuk hanya seminar,” sentilnya kepada para aktivis pemuda.
Ia mendorong agar setiap narasi besar segera diikuti dengan langkah teknis yang dimulai dari peningkatan kapasitas diri sendiri.
“Kita bicara dan melakukan sekaligus,” ucapnya menekankan pentingnya sinkronisasi ucapan dan perbuatan.
Pola edukasi pun harus bergeser dari sekadar menggurui orang lain menjadi pembuktian melalui hasil kerja nyata.
“Cara melakukannya bukan ajar orang, ajar diri kita dulu,” tegas Viktor kembali.
Bagi Viktor, fundamental pembangunan terletak pada konsistensi pola pikir yang benar sejak awal perencanaan.
Kesalahan dalam cara pandang hanya akan membawa kegagalan berkelanjutan yang merugikan daerah dalam jangka panjang.
“Kalau cara berpikirnya salah, dia akan salah terus sampai ujung,” pungkasnya memberi peringatan.
Sebaliknya, integritas berpikir yang kuat diyakini akan menjadi kompas bagi kemajuan NTT yang berkelanjutan.
“Kalau cara berpikirnya benar, dia akan benar terus,” tutupnya dalam forum yang dihadiri diaspora tersebut.
Sebagai penutup ide baru, Viktor menekankan bahwa Forum Pemuda Kupang Jakarta harus menjadi simbol persatuan nasional yang melampaui sekat primordialisme.
Ia berharap gerakan ini menjadi motor penggerak bagi kemajuan bangsa dengan mengedepankan kolaborasi lintas identitas di ibu kota.
“Kupang Jakarta ini bukan simbol suku atau agama, tapi titik pusat gerakan cara berpikir dan bertindak untuk kepentingan bangsa,” tutup Viktor secara diplomatis.***







