Wajah Baru Pendidikan Indonesia: Antara Smart Board dan Tantangan Daerah 3T

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sekolah modern dan penggunaan smart board di ruang kelas Indonesia

Ilustrasi sekolah modern dan penggunaan smart board di ruang kelas Indonesia

Jakarta, HarianMurba.com – Sektor pendidikan Indonesia sedang mengalami perombakan besar-besaran pada tahun 2026. Fokus utama terletak pada lonjakan drastis renovasi fisik sekolah yang meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski kemajuan infrastruktur terlihat sangat nyata, tantangan besar terkait pemerataan kualitas di wilayah pelosok masih membayangi.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, memberikan catatan khusus mengenai peta jalan pendidikan saat ini. Ia melihat adanya kemauan politik yang kuat dari eksekutif untuk mengubah wajah sekolah di tanah air.

“Terkait penilaian saya terhadap kemajuan pendidikan di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran, saya dapat menyatakan bahwa telah terjadi arah perubahan yang nyata, meskipun tantangannya masih sangat berat,” kata Lalu dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (3/5/2026).

Loncatan Angka Renovasi Sekolah

Narasi kemajuan yang paling mencolok terlihat pada data rehabilitasi bangunan pendidikan. Jika pada tahun lalu pemerintah hanya mampu menyentuh angka 17.000 sekolah, kini di tahun 2026, jumlahnya melesat hingga 70.000 unit sekolah yang diperbaiki secara menyeluruh.

Legislator dari Fraksi PKB ini menjelaskan bahwa langkah masif ini memiliki tenggat waktu yang jelas demi memastikan kenyamanan belajar siswa di seluruh pelosok.

“Dan pemerintah menargetkan pada tahun 2028 seluruh sekolah di Indonesia akan selesai direnovasi,” kata Politisi Fraksi PKB ini.

Selain perbaikan fisik, pemerintah juga menyuntikkan teknologi ke dalam ruang-ruang kelas melalui pengadaan papan pintar (smart board) interaktif. Langkah ini dibarengi dengan perhatian pada kesejahteraan pendidik lewat tunjangan guru non-ASN serta peluncuran inisiatif Sekolah Rakyat.

Keseimbangan Antara Fisik dan SDM

Meskipun pembangunan gedung menjadi prioritas yang terlihat mata, DPR mengingatkan bahwa mesin utama pendidikan adalah manusia. Oleh karena itu, pengawasan terhadap kompetensi dan kesejahteraan guru harus berjalan beriringan dengan pembangunan fisik yang megah.

Pimpinan Komisi Bidang Pendidikan tersebut menekankan pentingnya konsistensi dalam mengawal kebijakan ini.

“Pada akhirnya, kesimpulan saya adalah bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran, serius dalam membenahi aspek infrastruktur pendidikan,” tutur Lalu.

“Namun kami akan terus mengawal SDM, yakni para guru, berjalan seimbang,” kata dia menambahkan.

Ironi Kesenjangan di Wilayah 3T

Namun, di balik gemerlap digitalisasi dan gedung baru, realitas di lapangan menunjukkan potret yang berbeda. Kualitas pendidikan dianggap belum menyentuh keadilan sosial yang merata, terutama bagi mereka yang berada di kawasan Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Lalu Hadrian menyoroti bahwa anggaran pendidikan yang besar seringkali terbentur pada tingginya biaya logistik dan operasional di medan yang sulit.

“Biaya distribusi guru dan fasilitas belajar di daerah terpencil lebih mahal dibandingkan di kota, sehingga banyak sekolah yang masih kekurangan tenaga pendidik dan infrastruktur,” kata Wakil Rakyat dari Dapil NTB II itu.

Mengejar Mutu, Bukan Sekadar Gedung

Ketimpangan antara fasilitas di pusat kota seperti Jakarta dengan wilayah pedalaman Papua menjadi pekerjaan rumah (PR) kolektif bagi negara. Akses pendidikan yang adil bukan hanya tentang ketersediaan bangunan, melainkan kesamaan standar proses pembelajaran.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa kehadiran negara harus dirasakan secara fisik maupun substansi oleh setiap anak didik, tanpa memandang lokasi geografis mereka.

“Tetapi juga harus diiringi dengan kualitas belajar yang unggul bagi setiap anak bangsa,” tegas sosok yang akrab disapa Lalu tersebut.***

Follow WhatsApp Channel www.harianmurba.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPR Desak Moratorium Pengembangan Panas Bumi Gunung Tampomas, Soroti Risiko Lingkungan dan Penerimaan Masyarakat
Ratna Juwita Desak Hukuman Tegas Pelaku Penyalahgunaan BBM Subsidi, Soroti Celah Sistem Digital Pertamina
Menyedihkan, Kasus Bunuh Diri Anak Melonjak di Tengah Ancaman Depresi Remaja
Kasus Sampang: Anggota DPR Desak LPSK Beri Perlindungan Trauma Maksimal Korban
Kemenko PM Gandeng UNSIA, 500 Kader Pemberdayaan Masyarakat Dapat Beasiswa S1
DPR Desak Kemhan Hentikan Sementara Latsarmil SPPI 2026 Usai Lima Peserta Meninggal
Sambangi Pulau Penjara Bersama Menimipas, Titiek Soeharto Puji Transformasi 135 Hektare Lahan Nusakambangan
90 Ribu Ton Beras Rusak Jadi Alarm Pengelolaan Stok, DPR Minta Distribusi Segera Dilakukan

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 08:03 WIB

DPR Desak Moratorium Pengembangan Panas Bumi Gunung Tampomas, Soroti Risiko Lingkungan dan Penerimaan Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:51 WIB

Ratna Juwita Desak Hukuman Tegas Pelaku Penyalahgunaan BBM Subsidi, Soroti Celah Sistem Digital Pertamina

Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:10 WIB

Menyedihkan, Kasus Bunuh Diri Anak Melonjak di Tengah Ancaman Depresi Remaja

Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:52 WIB

Kasus Sampang: Anggota DPR Desak LPSK Beri Perlindungan Trauma Maksimal Korban

Rabu, 1 Juli 2026 - 07:03 WIB

Kemenko PM Gandeng UNSIA, 500 Kader Pemberdayaan Masyarakat Dapat Beasiswa S1

Berita Terbaru