Jakarta – Fenomena generasi muda yang bergerak terlalu cepat dan mudah terdistraksi kini menjadi tantangan terbesar dalam mencetak pemimpin masa depan. Masalah akut ini menjadi sorotan tajam karena dinamika era digital sering kali membuat anak muda kehilangan fokus. Oleh karena itu, pendekatan baru sangat diperlukan agar kepemimpinan nasional tidak sekadar mengejar popularitas instan yang rapuh.
Kritik mendalam terhadap kultur serba kilat ini mengemuka dalam karantina daring Duta Siswa Kabupaten/Kota se-Indonesia 2026. Acara tersebut diselenggarakan oleh Komite Seleksi Nasional Yayasan Duta Siswa Indonesia pada Minggu (31/5/2026). Di hadapan ratusan peserta, pimpinan parlemen mengingatkan bahaya laten dari hilangnya konsentrasi akibat arus informasi yang terlalu deras.
Kritik Atas Distraksi Digital
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti bagaimana kecenderungan anak muda saat ini yang terlalu reaktif terhadap tren di media sosial. Menurutnya, kepintaran akademis akan menjadi sia-sia tanpa adanya ketahanan mental dan fokus yang kuat.
“Banyak anak pintar, tetapi tidak fokus. Dan gampang sekali terdistraksi,” ujarnya saat menyampaikan materi pembekalan.
Guna mengatasi fenomena tersebut, politisi yang akrab disapa Rerie ini menawarkan solusi melalui pendekatan manajemen modern, yaitu Teori U buatan Otto Scharmer. Metode ini melatih seseorang untuk menghentikan kebiasaan asal respons (fast scrolling), lalu beralih mendengarkan dan merenung secara mendalam sebelum bertindak.
Fondasi Penguasaan Diri
Hubungan antara penguasaan diri dan perubahan zaman dinilai sangat erat. Anggota Komisi X DPR RI tersebut menyatakan bahwa transformasi publik tidak akan pernah terjadi tanpa adanya pembenahan internal dari dalam diri individu itu sendiri.
“Perjalanan mengenal diri sendiri itu dimulai sejak dini. Kalau kita mau mengubah masa depan, maka kita harus belajar memahami diri sendiri,” kata Rerie menekankan pentingnya introspeksi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tantangan terberat seorang tokoh bukan datang dari rival ataupun faktor eksternal. Sifat egois dan ketidakmampuan mengontrol emosi justru menjadi bumerang terbesar yang bisa menghancurkan karier kepemimpinan seseorang.
“Pemimpin yang paripurna adalah pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sudah selesai dengan dirinya sendiri berarti memahami dirinya,” ungkap legislator dari Partai NasDem itu.
Menggali Akar Masalah dengan Peta Empati
Dalam kaitannya dengan pemecahan masalah publik, Rerie meminta para remaja tidak terjebak pada apa yang viral di permukaan saja. Pemimpin sejati wajib menganalisis hingga ke akar persoalan agar kebijakan yang diambil nantinya bisa tepat sasaran.
“Karena, apa yang terlihat di atas itu biasanya hanya sedikit. Yang sebenarnya justru ada di bawah dan tersembunyi,” urai Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.
Selain ketajaman analisis, kemampuan untuk bersimpati dan melihat dari kacamata masyarakat bawah juga menjadi indikator penting. Penguasaan konsep peta empati akan membantu perumusan kebijakan yang lebih humanis dan berkeadilan.
“Sehingga ketika mengambil keputusan, ketika kalian bertindak, ketika memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan, kalian memiliki kemampuan untuk melihat dari berbagai sudut pandang,” tuturnya.
Langkah konkret harus segera diambil oleh generasi muda tanpa perlu menunggu momentum politik di masa depan. Persiapan matang itu harus dimulai dari aktivitas dan kedisiplinan sehari-hari yang terukur.
“Mulai dari sekarang, para calon pemimpin sudah harus mampu mengenali dirinya, mampu memahami dirinya, dan kemudian menyiapkan dirinya untuk bertindak,” pungkasnya penuh optimisme.
Sudut Pandang Baru Penutup Berita
Melalui pembekalan berbasis karakter ini, karantina Duta Siswa tidak lagi sekadar menjadi ajang kompetisi prestasi akademik yang kaku. Program ini berhasil bertransformasi menjadi laboratorium inkubasi yang diharapkan mampu menyuplai agen perubahan berbasis daerah.
Dampaknya, para utusan kabupaten/kota ini akan membawa pulang paradigma kepemimpinan modern ini ke wilayah pelosok nusantara. Langkah ini diyakini mampu memutus mata rantai ketimpangan kualitas sumber daya manusia (SDM) antara pusat dan daerah demi menyongsong Indonesia Emas.***







