‎DALEM SANTRI, Sang Pembuka Jalan Cikal Bakal Purwakarta

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PURWAKARTA — Riwayat sejarah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, tidak terlepas dari peran para perintis yang telah memulai segala sesuatunya dari awal.

Salah satu tokoh penting yang berperan dalam perjalanan sejarah tersebut adalah Dalem Santri, sosok yang membuka jalan bagi lahirnya cikal bakal Purwakarta.

Dalam literasi sejarah Purwakarta, nama Dalem Sholawat atau Raden Adipati Aria Soeriawinata, Bupati Karawang pada era kolonial Belanda periode 1828–1849, tercatat sebagai sosok sentral di balik lahirnya nama Purwakarta.

‎Nama tersebut kemudian menjadi landasan peringatan Hari Jadi Purwakarta yang diperingati setiap 20 Juli, berdasarkan catatan Surat Keputusan atau Besluit pemerintah kolonial Belanda tertanggal 20 Juli 1831 Nomor 2 tentang pengukuhan nama Purwakarta.

Namun, keberadaan Dalem Sholawat di wilayah yang saat itu menjadi bagian dari Kabupaten Karawang tidak terlepas dari peran kakak kandungnya, Dalem Santri atau Raden Adipati Aria Soerianata, yang menjabat sebagai Bupati Karawang pada era kolonial periode 1820–1827.

Pada 1821, Dalem Santri memindahkan ibu kota Kabupaten Karawang yang semula berpusat di Bunut Kertajaya, wilayah yang kini berada di Kabupaten Karawang, ke Wanayasa, wilayah yang saat ini masuk Kabupaten Purwakarta.

Pemindahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Purwakarta.

Tanpa langkah Dalem Santri memindahkan pusat pemerintahan ke Wanayasa, cikal bakal terbentuknya Purwakarta sebagai entitas baru mungkin tidak akan berkembang seperti yang dikenal saat ini.

Dalem Santri dan Dalem Sholawat, Sosok Pemimpin Religius

Sebagaimana Dalem Sholawat yang memperoleh julukan dari masyarakat karena kebiasaannya berselawat dalam berbagai situasi, Raden Adipati Aria Soerianata juga dikenal dengan sebutan Dalem Santri karena kealimannya dalam beribadah.

Kedua tokoh tersebut memang mendapatkan pendidikan agama sejak kecil. Kakek mereka, Raden Muhammad Thohir, dikenal sebagai tokoh ulama besar atau aulia di Bogor.

‎Pada masa itu, seorang bupati tidak hanya berperan sebagai umaro atau pemimpin pemerintahan, tetapi juga diharapkan memiliki kapasitas keagamaan sebagai ulama.

Dalam filosofi Sunda dan Jawa, konsep bibit, bebet, bobot atau garis keturunan, latar belakang, dan kualitas diri menjadi faktor penting dalam kepemimpinan publik.

Seorang pemimpin dituntut mampu menguasai berbagai bidang, terutama memiliki kecakapan dalam ilmu pemerintahan dan ilmu keagamaan.

Dalem Santri dan Dalem Sholawat disebut sebagai keturunan Trah Pajajaran yang berpusat di Bogor.

Garis keturunan mereka tersambung kepada Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja melalui pihak kakek mereka, Raden Muhammad Thohir.

‎Sementara itu, dari pihak nenek mereka, Ratu Syarifah, garis keturunannya berasal dari Trah Kesultanan Banten. Ratu Syarifah disebut sebagai cucu Sultan Ageng Tirtayasa, penerus Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

‎Peninggalan Dalem Santri di Wanayasa

Dalem Santri memerintah di Wanayasa selama sekitar enam tahun. Selama masa kepemimpinannya, ia meninggalkan sejumlah jejak sejarah, salah satunya Mata Air Cibulakan yang hingga kini masih berfungsi sebagai sarana pengairan.

Mata air tersebut terletak di Desa Babakan, Wanayasa, dan berada tidak jauh dari makam Dalem Santri.

‎Setelah Dalem Santri wafat, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh adik kandungnya, Dalem Sholawat.

Sosok inilah yang kemudian memindahkan ibu kota Kabupaten Karawang dari Wanayasa ke wilayah Sindang Kasih pada 1830.

Setahun kemudian, wilayah tersebut dikukuhkan dengan nama Purwakarta.

‎Napak Tilas Sejarah Bersama Keturunan Dalem Santri

Terbaru, dalam sebuah kegiatan napak tilas kesejarahan, Wadah Silaturahmi Lintas Elemen Masyarakat BELA PURWAKARTA membersamai generasi ketujuh Dalem Santri, yakni Raden Boyke Pranata Soerianata, yang baru kembali dari Amerika Serikat setelah berkarier selama hampir 30 tahun.

Boyke merupakan satu-satunya Master Technician dari wilayah Asia Tenggara yang berkiprah di Harley-Davidson Company di Sacramento, California.

Dalam momentum pulang kampung kali ini, Boyke tidak hanya menziarahi makam leluhurnya, tetapi juga berencana menggelar Haul Dalem Santri di Wanayasa.

Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, menyambut baik rencana tersebut.

Dalam forum silaturahmi bersama Boyke Soerianata yang dilanjutkan dengan kegiatan ziarah ke makam Dalem Santri di Wanayasa, hadir sejumlah tokoh, di antaranya Kepala Bagian Protokol Pemda Purwakarta, Hilman Nugraha, yang merupakan sepupu Boyke Soerianata; Camat Wanayasa, Heru Agus Riyanto; Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Kecamatan Wanayasa, Gunawan Adriana; Kepala Desa Wanayasa, Makmur Hidayat; Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Wanayasa, Rina Sri Nurbaeti; serta Kepala Desa Babakan, Endin Sopyudin atau Ebet.

Dari BELA PURWAKARTA (BELPUR), turut hadir Ali Novel Magad, Humas Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Purwakarta; Sahril Sidik atau Boriel, Humas BELPUR; Asep Richo, Koordinator Paguyuban Warga Banten Purwakarta; serta Uu Wijaya, pengurus Komunitas Iket Sunda (KIS ARTA) Kabupaten Purwakarta.

Kegiatan kesejarahan tersebut juga diikuti Duta Pariwisata Jawa Barat sekaligus Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2026, Vera Novia, yang merupakan Mojang Kabupaten Purwakarta tahun 2024.

‎Vera Novia: Ziarah Sekaligus Edukasi Sejarah bagi Generasi Muda

Aa Komara menjelaskan bahwa kehadiran Vera Novia merupakan bentuk apresiasi generasi Z terhadap para leluhur Purwakarta.

“Kehadiran Vera Novia sebagai bentuk apresiasi mewakili Gen Z terhadap leluhur Purwakarta. Aktivitas ziarah ini sekaligus bentuk edukasi agar kalangan generasi penerus memahami sejarah Purwakarta secara utuh, terlebih lagi bagi seorang Mojang atau Duta, yang harus mampu menginformasikan kepada khalayak luas tentang Purwakarta secara detail, terutama dari aspek historis,” tutur Aa Komara.

Vera Novia turut menegaskan pentingnya kegiatan tersebut, tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sebagai upaya menggali potensi pengembangan wisata religi.

‎”Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, kunjungan ini sangat penting untuk menggali potensi pengembangan wisata religi.

Tentunya ketika di masa depan situs keramat Dalem Santri ini menjadi destinasi wisata religi, maka akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal Desa Babakan dan Kecamatan Wanayasa serta Kabupaten Purwakarta pada umumnya, dengan banyaknya peziarah dari lintas kota atau provinsi ke lokasi ini,” ungkap Vera Novia.

‎Makam Dalem Santri Berpotensi Menjadi Destinasi Wisata Religi

Pernyataan Vera Novia tersebut diperkuat oleh Kepala Desa Babakan, Endin Sopyudin, yang menyebut makam Dalem Santri selama ini telah menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.

‎”Untuk saat ini saja makam Dalem Santri sudah sering diziarahi oleh masyarakat dari lintas kota, di antaranya dari Karawang, Bogor, Bandung, bahkan dari Lamongan, Jawa Timur.

‎Bisa saja ke depannya tercipta perpaduan Paket Perjalanan Wisata Religi: Dalem Santri–Syekh Baing Yusuf–Mama Sempur Plered,” ujarnya dengan nada optimistis.

Potensi tersebut membuka peluang pengembangan wisata religi yang menghubungkan sejumlah situs sejarah dan makam tokoh agama di Kabupaten Purwakarta.

Sinergi dalam pelestarian makam para leluhur pun dinilai perlu terus diperkuat. Pemerintah, pihak keluarga atau keturunan tokoh, serta masyarakat diharapkan senantiasa membangun kolaborasi karena merawat sejarah merupakan kepentingan bersama.

‎Merawat Sejarah untuk Menjaga Akar Peradaban Purwakarta

‎Menanggapi momentum penting tersebut, Founder Spirit Binokasih Purwakarta, Wahyu Hidayat, S.H., turut menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga warisan sejarah Dalem Santri.

“Merawat sejarah Dalem Santri adalah upaya menjaga akar peradaban Purwakarta. Tanpa keberanian dan kepemimpinan beliau di Wanayasa, sejarah Purwakarta tidak akan berdiri seperti hari ini. Sinergi antara pemerintah, keturunan, dan komunitas kebudayaan adalah kunci agar warisan sejarah ini tetap lestari dan memberi dampak bagi masyarakat luas,” ungkap Wahyu Hidayat.

‎Melalui kegiatan napak tilas dan ziarah tersebut, diharapkan sejarah Dalem Santri semakin dikenal oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda.

Upaya pelestarian sejarah juga diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi wisata religi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah.***

‎(WhY)

Follow WhatsApp Channel www.harianmurba.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jelang Musda Partai Golkar Purwakarta, Rosi Tegaskan Kepemimpinan Harus Lahir dari Kepercayaan, Bukan Ketakutan
HIPMI Purwakarta: Bukan Sekadar Tempat Rapat, Tapi Rumah bagi Pengusaha Muda yang Ingin Tumbuh
Sosialisasi Operasi Patuh Lodaya 2026, Satlantas Polres Purwakarta Edukasi Masyarakat Lewat Radio
Penetapan dan Pengundian Nomor Urut Calon Kades Margasari PAW: Ardiansyah No. 1, Suherman No. 2
KMP Portlink III Mulai Beroperasi, ASDP Perkuat Konektivitas Jawa–Sumatera
Pemerintah Hadir di Tengah Warga yang Rumahnya Ambruk, Kades Ketapang, Hamsin: Terima Kasih Pak Bupati
Polres Pasuruan Melaksanakan Operasi Patuh Semeru 2026 Selama 14 Hari Pastikan Penindakan Tegas dan Humanis
Endang Ahmad Tekankan Kebersamaan dan Kekeluargaan dalam Osjur Bisnis Digital Politeknik Jatiluhur

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:38 WIB

Jelang Musda Partai Golkar Purwakarta, Rosi Tegaskan Kepemimpinan Harus Lahir dari Kepercayaan, Bukan Ketakutan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 05:43 WIB

HIPMI Purwakarta: Bukan Sekadar Tempat Rapat, Tapi Rumah bagi Pengusaha Muda yang Ingin Tumbuh

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:34 WIB

‎DALEM SANTRI, Sang Pembuka Jalan Cikal Bakal Purwakarta

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:25 WIB

Sosialisasi Operasi Patuh Lodaya 2026, Satlantas Polres Purwakarta Edukasi Masyarakat Lewat Radio

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:19 WIB

KMP Portlink III Mulai Beroperasi, ASDP Perkuat Konektivitas Jawa–Sumatera

Berita Terbaru

Daerah

‎DALEM SANTRI, Sang Pembuka Jalan Cikal Bakal Purwakarta

Selasa, 27 Okt 2026 - 18:34 WIB